Perubahan iklim merupakan sebuah fenomena lingkungan yang menyebabkan dampak yang luas di berbagai aspek kehidupan, mengancam kelangsungan hidup manusia baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Perubahan iklim merujuk pada perubahan yang berarti dalam kondisi iklim, seperti suhu udara atau pola curah hujan, yang terjadi dalam rentang waktu tertentu. Perubahan iklim merupakan fenomena yang semakin menjadi perhatian global dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini mencakup perubahan signifikan dalam pola cuaca, suhu udara, dan faktor-faktor lingkungan lainnya yang mempengaruhi ekosistem bumi. Perubahan iklim merupakan sebuah fenomena yang sangat penting yang banyak mengarahkan kepada perubahan pola cuaca, kenaikan suhu global, degradasi ekosistem, dan kehilangan keanekaragaman hayati (Abdillah, Rahmawati, & Kamal, 2024).
Krisis iklim merupakan sebuah masalah serius yang disebabkan oleh perubahan iklim sehingga mempengaruhi kehidupan melalui berbagai permasalahan seperti krisis cuaca yang berbahaya, resiko kesehatan, dan sebagainya. Krisis iklim ini sudah memberikan dampak negatif bagi berbagai negara sehingga membuat permasalahan krisis iklim ini menjadi lebih kompleks. Tingginya kompleksitas krisis iklim yang terjadi karena perubahan iklim membuat masyarakat saat ini menyadari dan memahami perlunya penanganan guna meminimalisir terjadinya masalah yang lebih besar. Terjadinya perubahan iklim dapat diakibatkan oleh pemanasan global yang tidak dapat dinetralisir hingga masuk ke dalam tahapan krisis. Global warming/pemanasan global adalah terjadinya konsentrasi pada gas-gas tertentu yang juga dikenal dengan sebutan gas rumah kaca. Pemanasan global telah menyebabkan krisis iklim sehingga menjadi ancaman bagi kelangsungan kehidupan . Hal ini menjadi masalah serius sebab masih perlunya penanganan krisis iklim yang maksimal dapat meminimalisir berbagai masalah yang ada (Arohmawati, Sujarwo, & Safitri, 2024).
Gambar 1. Perubahan iklim membuat rata-rata wilayah di bumi mengalami tambahan suhu panas selamat 6-8 minggu (world weather attribution)
(27/12/2024 sumber : Krisis Iklim, Indonesia Alami Tambahan 122 Hari Suhu Panas pada 2024)
Siklus karbon adalah proses di mana karbon bergerak melalui atmosfer, biosfer, lautan, dan geosfer. Aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi, meningkatkan konsentrasi karbon dioksida (CO₂) di atmosfer, yang mengganggu keseimbangan siklus ini dan berkontribusi pada pemanasan global. Siklus ini terdiri dari dua tipe utama:
- Siklus Karbon Pendek, yang berlangsung melalui fotosintesis tumbuhan, respirasi, dan dekomposisi organisme.
- Siklus Karbon Panjang, yang melibatkan proses geologis seperti pembentukan batuan karbonat dan fosil. (Anggara & Purwaningrum, 2024)
Siklus karbon memiliki hubungan dengan krisis iklim, diantaranya :
- Emisi karbon dari aktivitas manusia, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi, meningkatkan konsentrasi CO₂ di atmosfer.
- Peningkatan CO₂ ini memperkuat efek rumah kaca, menyebabkan peningkatan suhu global, perubahan pola cuaca ekstrem, dan naiknya permukaan laut.
- Gangguan pada siklus karbon alami menyebabkan ketidakseimbangan dalam serapan dan pelepasan karbon, memperparah dampak krisis iklim.
Terdapat reservoir karbon utama yang dapat di klasifikasikan sebagai berikut :
- Atmosfer yang menyimpan karbon dalam bentuk CO₂ dan gas-gas lain yang mengandung karbon.
- Biosfer (organisme hidup) yang menyimpan karbon dalam biomassa tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme melalui proses fotosintesis.
- Tanah dan Ekosistem Terestrial, dimana bahan organik di tanah menyimpan karbon dalam jangka waktu yang bervariasi.
- Lautan dan Perairan yang menyerap karbon dari atmosfer dan menyimpannya dalam bentuk karbon terlarut serta sedimen di dasar laut.
- Reservoir Geologis berupa karbon yang tersimpan dalam bentuk bahan bakar fosil (batu bara, minyak, gas) dan batuan karbonat seperti kapur (Anggara & Purwaningrum, 2024).

( 25/09/2017 Sumber : Carbon Cycle Reservoirs | Biology Dictionary)
Fotosintesis dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor pembatas (limiting factors), seperti intensitas cahaya, konsentrasi karbon dioksida (CO₂), suhu, dan ketersediaan air. Perubahan iklim dapat memodifikasi faktor-faktor ini dengan cara berikut:
- Suhu: Peningkatan suhu dapat meningkatkan laju fotosintesis hingga mencapai suhu optimum. Namun, jika suhu melebihi batas optimum, enzim-enzim yang terlibat dalam fotosintesis dapat terdenaturasi, sehingga laju fotosintesis menurun. Studi di India menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan indeks luas daun, peningkatan suhu menghambat produktivitas primer bersih vegetasi (Das, Chaturvedi, Roy, Karmakar, & Subimal, 2022)
- Ketersediaan Air: Perubahan pola curah hujan dan peningkatan evaporasi akibat suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan kekeringan. Kekurangan air menyebabkan stomata pada daun menutup untuk mengurangi kehilangan air, tetapi hal ini juga membatasi masuknya CO₂, sehingga mengurangi laju fotosintesis.
- Konsentrasi CO₂: Peningkatan konsentrasi CO₂ di atmosfer dapat meningkatkan laju fotosintesis, karena CO₂ adalah bahan baku utama dalam proses tersebut. Namun, manfaat ini dapat diimbangi oleh faktor-faktor lain seperti suhu ekstrem dan kekurangan air.
- Intensitas Cahaya: Perubahan iklim dapat memengaruhi pola awan dan kejernihan atmosfer, yang pada gilirannya mempengaruhi jumlah cahaya yang tersedia untuk fotosintesis.
Abdillah, A. A., Rahmawati, A. V., & Kamal, U. (2024). Perubahan Iklim dan Krisis Lingkungan: Tantangan Hukum dan Peran Masyarakat. Jurnal Publikasi Ilmu Hukum, 364-375.
Anggara, O. C., & Purwaningrum, S. I. (2024). SERAPAN KARBON RUANG TERBUKA HIJAU. Bandung: WIDINA MEDIA UTAMA.
Arohmawati, Sujarwo, & Safitri, D. (2024). KRISIS IKLIM YANG MENYEBABKAN KERUGIAN DI BERBAGAI NEGARA. Jurnal Ilmu Sosial.
Das, R., Chaturvedi, R. K., Roy, A., Karmakar, S., & Subimal. (2022). Warming inhibits Increases in Vegetation Net Primary Productivity despite Greening in India.


